Pengertian dan Pemahaman Tentang Pemadam Kebakaran dalam K3 - Ruang Baca - Wahana Tutorial Psikologi, Musik, Biola, dan Teknologi

Jumat, 15 Oktober 2021

Pengertian dan Pemahaman Tentang Pemadam Kebakaran dalam K3


PEMADAM KEBAKARAN

Pemadaman kebakaran/PMK adalah petugas atau dinas yang dilatih dan bertugas untuk menanggulangi kebakaran. Pemadam Kebakaran sebisa mungkin harus selalu ada di tempat-tempat yang rawan akan terjadi kebakaran.

Terdapat 3 Cara Untuk Mengatasi/Memadamkan Kebakaran Yaitu:

  1. Cara penguraian yaitu cara memadamkan dengan memisahkan atau menjauhkanbahan/benda-benda yang mudah terbakar.
  2. Cara pendinginan yaitu cara memadamkan kebakaran dengan menurunkan panas atausuhu. Bahan airlah yang paling dominan digunakan dalam menurunkan panas dengancara menyemprotkan atau menyiramkan air ke titik api.
  3. Cara isolasi/lokalisasi yaitu cara memadamkan kebakaran dengan mengurangikadar/persentase O2 pada benda-benda yang terbakar.

Bahan Pemadam Kebakaran Yang Banyak Dijumpai dan Dipakai Saat Ini Antara Lain:

1. Bahan Pemadam Air

Bahan pemadam air mudah didapat, harga murah, dapat digunakan dalam jumlah yangtak terbatas bahkan tidak perlu beli/gratis. Keuntungan menggunakan bahan air yaitusebagai media pendingin yang baik dan dapat juga menahan/menolak dan mengusirmasuknya oksigen apabila dikabutkan. Sedangkan kelemahannya yaitu air dapatmengantarkan listrik, merusak barang berharga seperti alat elektronik dan juga kurang bagusjika digunakan di kapal karena dapat mengganggu keseimbangannya. Air juga dapat
menambah panas apabila terkena karbit kopramentah, atau bahan-bahan kimia tertentu.Pada saat ini bahan pemadam kebakaran air banyak digunakan dengan sistem/bentuk kabut(fog) karena mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan pancaran air seperti berikut:

  • Mempunyai kemampuan menyerap panas (pendinginan) lebih besar, 1 liter air yangdipancarkan dapat menyerap panas 30 kcal, sedangkan bila dikabutkan 1 liter air dapatmenjadi uap sebanyak 1600 lt dan akan menyerap panas sampai 300 kcal.
  • Penyemprotan nozzle lebih mudah dikendalikan, dengan mengatur nozzle pancarandapat dikendalikan bahkan sistem kabut (fog).
  • Menghasilkan udara segar.
  • Dapat digunakan pada kebakaran minyak (zat cair).

2. Bahan Pemadam Busa (foam)

Bahan pemadam busa efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B (minyak, solar, dan cairnya), untuk memadamkan kebakaran benda padat (Kelas A) kurang baik. Seperti diketahui bahwa pemadam kebakaran dengan bahan busa adalah dengan cara isolasi yaitu mencegah masuknya udara dalam proses kebakaran (api), dengan menutup/menyelimuti permukaan benda yang terbakar sehingga api tidak mengalir.

Menurut proses pembuatannya terdapat dua jenis busa seperti berikut.

  1. Busa kimia (Chemis).
  2. Busa mekanis. Busa kurang sesuai untuk disemprotkan pada permukaan cairan yang mudah bercampur dengan air (alkohol, spirtus) karena busa mudah larut dalam air.

3. Bahan Pemadam Gas CO2

Bahan pemadam kebakaran CO2 atau karbon dioksida berupa gas dan dapat digunakan untuk memadamkan segala jenis kebakaran terutama kelas C. Dengan menghembuskan gas CO2 akan dapat mengusir dan mengurangi persentase oksigen (O2) yang ada di udara sampai 12 % – 15 %-. Gas CO2 ini lebih berat dari pada udara dan seperti gas-gas lain tidak menghantar listrik, tidak berbau dan tidak meninggalkan bekas/bersih.

4. Bahan Pemadam Powder Kering (Dry chemical)

Dry chemical dapat digunakan untuk semua jenis kebakaran, tidak berbahaya bagi manusia/binatang karena tidak beracun. Bahan dry chemical disebut sebagai bahan pemadam kebakaran yang berfungsi ganda (multi purpose extinguisher).

  • Tidak menghantar listrik, powder berfungsi mengikat oksigen (isolasi) dan juga dapatmengikat gas-gas lain yang membahayakan.
  • Dapat menurunkan suhu, mudah dibersihkan, dan tidak merusak alat-alat.

Cara penggunaannya dry chemical hampir sama dengan gas CO2 sebagai berikut.

  • Pertama harus diperhatikan adanya/arah angin, jika angin bertiup terlalu kuat maka penggunaan dry chemical ini tidak efisien.
  • Arahkan pancaran pemotong nyala api dan usahakan dapat terbentuk semacamawan/asap untuk menutup nyala api tersebut.

5. Bahan Pemadam Gas Halogen (BCF)

Alat Pemadam Api Ringan jenis Halon 1211 (BCF/ Carbon, Flourine, Chlorine, Bromide). Halon 1211 (BCF) biasanya dipasang di dinding-dinding kantor dalam bentuk Alat PemadamApi Ringan (APAR) dan efektif digunakan pada ruangan, karena dalam pemadaman kebakaran bersifat mengisolir oksigen, di samping itu gas halon sangat baik karena tidak bersifat merusak dan bersih. 

KLASIFIKASI PENYEBAB KEBAKARAN

Ketika kebakaran terjadi kuasailah pada saat api tersebut masih kecil, semakin besar api semakin sulit memadamkannya. Tindakan yang cepat diperlukan agar pemadaman api dapat efektif dilakukan. Pengetahuan mengenai jenis alat pemadam api yang sesuai dengan material yang terbakar sangat diperlukan. Ketahuilah tempat pemadam api, perlengkapan pemadam api seperti selang air, selimut api, mencuci muka/mandi di dalam daerah bekerja di mana anda bekerja, jangan pindahkan alat pencegahan/pemadam kebakaran dari daerah yang ditentukan tanpa persetujuan dari bagian Safety Personil kecuali untuk penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Jangan meletakkan benda yang menghalangi alat pemadam kebakaran. Pemadam api harus selalu tersedia jika diperlukan untuk pekerjaan panas. Laporkan segera ke petugas safety jika terdapat kerusakan pada alat pemadam api.

PENYEBAB KEBAKARAN

Kebakaran Dapat Terjadi Bila Terdapat 3 Hal, Yaitu:

  1. Terdapat bahan yang mudah terbakar baik berupa bahan padat cair atau gas (kayu, kertas, tekstil, bensin, minyak, acetelin, dan lain-lain).
  2. Terdapat suhu yang tinggi yang disebabkan oleh sumber panas seperti sinar matahari, listrik (kortsluiting, panas energi mekanik (gesekan), reaksi kimia, kompresi udara.
  3. Terdapat Oksigen (O2) yang cukup kandungannya. Makin besar kandungan oksigen dalam udara maka nyala api akan semakin besar. Pada kandungan oksigen kurang dari 12% tidak akan terjadi kebakaran. Dalam keadaan normal kandungan oksigen di udara 21%, cukup efektif untuk terjadinya kebakaran.

Bila tiga unsur tersebut cukup tersedia maka kebakaran terjadi. Apabila salah satu dari 3 unsur tersebut tidak tersedia dalam jumlah yang cukup maka tidak mungkin terjadi kebakaran. 

Jadi, Api Dapat Dipadamkan Dengan Tiga Cara Yaitu:

  1. Dengan menurunkan suhunya di bawah suhu kebakaran,
  2. Menghilangkan zat asam,
  3. Menjauhkan barang-barang yang mudah terbakar.

PENGELOMPOKAN KEBAKARAN

Pengelompokan kebakaran menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 mengklasifikasikan kebakaran menjadi 4 yaitu kategori A, B, C, D, sedangkan National Fire Protection Association (NFPA) menetapkan 5 kategori jenis penyebab kebakaran yaitu kelas A, B, C, D, dan K. Bahkan beberapa negara menetapkan tambahan klasifikasi dengan kelas E. 

Klasifikasi Kebakaran

1. Kebakaran Kelas A
Kebakaran kelas A adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam. Contoh: Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dan sebagainya. Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran kelas ini adalah dengan: pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa), dan air.
2. Kebakaran Kelas B
Kebakaran kelas B adalah kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar. Contoh: kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng. Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut yang halus.
3. Kebakaran Kelas C
Kebakaran kelas C adalah kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti breaker listrik dan alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik. Alat Pemadam yang dipergunakan adalah: Carbondioxyda (CO2), tepung kering (drychemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.
4. Kebakaran Kelas D
Kebakaran kelas D adalah kebakaran pada benda-benda logam padat seperti: magnesium, alumunium, natrium, kalium, dan sebagainy. Alat pemadam yang dipergunakan adalah: pasir halus dan kering, dry powder khusus.
5. Kebakaran Kelas K
Kebakaran kelas K adalah kebakaran yang disebabkan oleh bahan akibat konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran jenis ini banyak terjadi di dapur. Api yang timbul di dapur dapat dikategorikan pada api Kelas B.
6. Kebakaran kelas E
Kebakaran kelas E adalah kebakaran yang disebabkan oleh adanya hubungan arus pendek pada peralatan elektronik. Alat pemadam yang bisa digunakan untuk memadamkan kebakaran jenis ini dapat juga menggunakan tepung kimia kering (dry powder), akan tetapi memiliki risiko kerusakan peralatan elektronik, karena dry powder mempunyai sifat lengket. Lebih cocok menggunakan pemadam api berbahan clean agent. 

Pencegahan Kebakaran

Penting untuk mengetahui pengelompokan kebakaran ini agar kita dapat menentukan alat pemadam api apa yang digunakan. Bila pemadam api yang kita gunakan salah maka upaya pemadaman api akan mengalami kegagalan. Contoh: Kebakaran kelas C (listrik) jangan dipadamkan dengan alat pemadam jenis cair seperti air/busa maka si pemadam itu sendiri akan terkena aliran listrik, karena air/busa adalah penghantar listrik yang baik. 

Berikut Ini Adalah Cara Pencegahan Kebakaran Yaitu:

Pengendalian bahan yang dapat terbakar
Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai seperti penyimpanan dalam tabung tertutup, terpisah dari bahan lain, diberi sekat dari bahan tahan api, ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran. Selain itu, kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi, bahan yang bersifat mengoksidasi, bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit), bahan yang relatif mudah terbakar seperti batu bara, kayu kering, kertas, plastik, cat, kapuk, kain, karet, jerami, sampah kering, serta bahan-bahan yang
mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu. 

Pengendalian Titik Nyala
Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor, pemanas, lampu minyak, api rokok, api pembakaran sampah, dan sebagainya. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. Sumber penyalaan yang lain seperti benda membara, bunga api, petir, reaksi eksoterm, timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama, atau terjadi hubungan singkat rangkaian listrik. 

Berikut Ini Adalah Beberapa Cara Pengendalian Titik Nyala Api:

  • Jangan menggunakan steker berlebihan.
  • Sambungan kabel harus sempurna.
  • Jangan mengisi minyak pada waktu kompor menyala.
  • Sumbu kompor jangan ada yang kosong.
  • Jangan meninggalkan kompor yang menyala.
  • Hati-hati menaruh lilin dan obat nyamuk. 

 Sumber: 

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980

Comments

1 comments

Assalamualaikum bapak. Saya Ermilia Sri Januarti kelas A ingin bertanya. Untuk memadamkan benda itu ada 3 kelas, kelas A, B,dan, C. Dr masing-masing kelas tersebut apa saja benda-benda nya. Sebagai contoh untuk kelas B (minyak, solar, dan cairnya). Baik bapak itu saja pertanyaan dari saya. terima kasih bapak..
Wassalamu'alaikum


EmoticonEmoticon